Anggraini, Adinda Novita (2026) Pengaruh Fluktuasi Parameter NH4,PO4 dan TOM Terhadap Kesehatan Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) Yang Terinfeksi EHP (Enterocytozoon hepatopenaei) Serta Dampaknya Pada Pembesaran Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) Di CV.Samudera Sejahtera Bali. Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Sidoarjo. (Unpublished)
Laporan KPA Adinda.pdf
Restricted to Registered users only
Download (2MB) | Request a copy
Abstract
Budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) berkembang pesat di berbagai wilayah Indonesia menggunakan teknologi intensif dengan padat tebar tinggi.Namun, peningkatan padat tebar berbanding lurus dengan peningkatan limbah metabolik sisa pakan yang mengendap di dasar tambak dan berubah menjadi senyawa toksik akibat penurunan kualitas air Mangampa & Hidayat, (2010). Akumulasi limbah organik yang tercermin dari tingginya nilai Total Organic Matter (TOM) serta kadar NH4 dan fosfat PO4 menjadi tantangan utama yang dapat memicu stres fisiologis pada udang akibat kondisi lingkungan yang abnormal Fakhri et al., (2015).Peningkatan NH4 yang ekstrem bersifat toksik dan merusak jaringan hepatopankreas, sementara TOM yang tinggi menciptakan lingkungan ideal bagi persistensi spora patogen seperti Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), yaitu parasit mikrosporidia yang menyerang sistem pencernaan dan menyebabkan hambatan pertumbuhan nyata atau stunting.
Di CV. Samudera Sejahtera Bali, ditemukan indikasi fluktuasi parameter nitrogen dan bahan organik yang cukup tajam yang diikuti dengan temuan spora EHP pada pemeriksaan laboratorium. Ketidakstabilan parameter lingkungan ini memaksa udang menggunakan energi metabolisme lebih besar untuk osmoregulasi, sehingga alokasi energi untuk pertumbuhan bobot berkurang Khanjani et al., (2020). Kondisi ini berisiko memicu kerugian ekonomi akibat penurunan nilai Average Daily Gain (ADG) dan Mean Body Weight (MBW). Berdasarkan permasalahan tersebut, pengamatan ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh fluktuasi parameter NH4,PO4 dan TOM terhadap kesehatan udang vaname yang terinfeksi EHP serta dampaknya pada proses pembesaran di CV. Samudera Sejahtera Bali. Kegiatan Karya Ilmiah Praktik Akhir (KIPA) ini dilaksanakan mulai tanggal 30 Maret 2026 sampai 29 Mei 2026.
Kegiatan KIPA ini dilakukan dengan metode survei dan magang yang berfokus pada monitoring parameter kimia air serta pemantauan kesehatan dan pertumbuhan harian udang. Prosedur pengumpulan dataiv primer meliputi pengukuran amonium NH4,PO4 menggunakan test kit, pengujian Total Organic Matter (TOM) dengan metode titrasi permanganometri, monitoring kesehatan struktur hepatopankreas melalui uji sediaan basah (wet mount), serta pengambilan data sampling udang untuk menghitung Average Daily Gain (ADG) dan Mean Body Weight (MBW). Hasil analisis menunjukkan bahwa akumulasi beban organik dan nutrien yang tinggi memicu ketidakstabilan lingkungan dan keberhasilan infeksi EHP. Parameter NH4 di Petak 8 mengalami lonjakan ekstrem dari DOC 59 hingga mencapai puncaknya sebesar 4,5 ppm pada DOC 75, dibarengi dengan nilai TOM yang menembus angka 104 ppm (melebihi ambang batas SOP < 80 ppm). Kondisi lingkungan yang buruk dan toksik ini bertindak sebagai reservoir bagi persistensi spora EHP sekaligus memicu stres fisiologis pada udang. Melalui pengamatan mikroskopis wet mount, tingginya fluktuasi parameter kimia ini berkorelasi langsung dengan kerusakan struktural hepatopankreas di Petak 8, yang dicirikan oleh 50% tubulus abnormal (mengkerut), penurunan drastis cadangan energi lemak (lipid droplet) hingga tersisa 65%, akumulasi Aggregated Transformed Microvilli (ATM) mencapai 0%, serta konfirmasi temuan spora EHP secara konsisten yang diperkuat hasil PCR positif (Ct 24,2). Dari hasil KIPA dapat disimpulkan bahwa fluktuasi ekstrem amonium NH4 (4,5 ppm) dan bahan organik TOM (104 ppm) menjadi pemicu utama kerusakan imun udang sehingga memfasilitasi infeksi patogen EHP. Dampak infeksi EHP ini menyebabkan terjadinya fenomena kerdil (stunting) pada Petak 8 akibat habisnya energi metabolisme udang diserap oleh parasit. Hal tersebut terlihat dari laju penambahan bobot harian (ADG) Petak 8 yang turun drastis dari 0,46 gram/hari menjadi hanya 0,17 gram/hari di akhir budidaya, jauh tertinggal dibandingkan Petak 11 yang relatif stabil dengan ADG akhir 0,37 gram/hari. Infeksi ini juga memicu ledakan kematian udang pada alat siphonan dasar tambak hingga mencapai 458 ekor pada DOC 70 an. Atas dasar kondisi pertumbuhan yang terhenti total dan penurunan performa MBW akhir yang signifikan (Petak 8 sebesar 16,09 gram dan Petak 11 sebesar 19,15 gram), manajemen tambak mengambil langkah mitigasi berupa keputusan panen dini pada DOC 80 di Petak 8 guna menekan kerugian finansial pakan dan modal budidaya yang lebih besar.
| Item Type: | Other |
|---|---|
| Subjects: | S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling |
| Depositing User: | Unnamed user with email admin@poltekkpsidoarjo.ac.id |
| Date Deposited: | 19 Oct 2026 04:04 |
| Last Modified: | 19 Oct 2026 04:27 |
| URI: | https://repository.poltekkpsidoarjo.ac.id/id/eprint/584 |
